Tentang Majelis Perwakilan Kelas, Menjadi Ketua Bukanlah Suatu Pilihan

Sekilas tentang cerita dan kesan menjadi ‘Ketua’ Majelis yang dibilang lembaga ‘tertinggi’ siswa di Sekolah Menengah Atas.

Menjadi Ketua? Sebelum membahas tentang topik yang ingin saya bahas mari sedikit berkenalan dengan apa itu Majelis Perwakilan Kelas  berdasarkan pengalaman dan pengamatan dari sudut pandang kaca mata saya. (ingat! Hanya sekedar dari pengalaman saya)

Lembaga ‘tertinggi’ siswa disekolah?

Berdasarkan namanya yang berlabelkan majelis, MPK khususnya disekolah saya menjadi sebuah tempat siswa-siswi perwakilan dari seluruh kelas. MPK digadang-gadang sebagai majelis non-organisasi yang bertugas mengontrol dan mengawasi OSIS sebagai organisasi satu-satunya disekolah. MPK pun menjadi majelis yang berhak untuk mengadakan perekrutan pengurus OSIS dan menyelenggarakan Pemilihan Ketua OSIS. Berdasarkan hal tersebut, MPK dapat diartikan sebagai lembaga tertinggi disekolah.

Lembaga tertinggi? Kenyataannya?

Pada praktik dilapangan, banyak hal yang masing menyeleweng dari tugas yang sudah dipaparkan sebelumnya. Kenyataannya begitu sulit MPK untuk dapat mengontrol kinerja OSIS, mengingat status MPK disekolah saya yang belum memiliki kejelasan. Berkaca dari sekolah-sekolah lain, MPK ada yang mempunyai status sebagai organisasi yang berdiri sendiri, namun banyak pula yang statusnya hanya sebagai wadah pengontrol OSIS. Sama halnya dengan apa yang terjadi disekolah saya. MPK dipaksa untuk menjadi pengontrol yang tidak memiliki kejelasan SK dari Kepala Sekolah. Maka para pengurus majelispun masih belum begitu paham tentang cara penyelenggaraan dan pelaksanaan tugas MPK.

Lalu bagaimana kabar MPK dari masa saya?

Mari kita masuk ke topik yang saya jadikan judul. Menjadi Ketua Bukanlah Suatu Pilihan. Mengapa? Memang saya adalah anak baru yang tak disangka dapat duduk menjadi ketua di majelis ini. Saya yang semasa kelas X bukanlah seorang pengurus OSIS (karena ketua-ketua MPK sebelumnya adalah jebolan dari pengurus OSIS periode sebelumnya) dapat secara mendadak memenangkan voting untuk menjadi ketua majelis. Namun sebenarnya hal tersebut tidaklah terlalu mengherankan mengingat walaupun saya bukanlah jebolan OSIS namun saya aktif menjadi Penegak Bantara dan Anggota Volunteer PMR sejak kelas X, hal tersebutlah yang menjembatani saya menjadi ketua. Kebetulan kakak kelas saya yang merupakan orang yang dihormati di kalangan elit OSIS merupakan jebolan Penegak Bantara yang punya nama besar. Beliaulah yang mengusung saya sebagai penerus panji kepemimpinan MPK (eeeeaaaaaa, panji sang penakluk) Peran beliau benar-benar menjadi sebab terbesar saya menjadi ketua. Maka akhirnyapun black campaign memenangkan saya.

Diawal masa saya, saya dibuat kebingungan dengan serah terima jabatan yang molor dari jadwal. Dan diperparah dengan minusnya kesadaran berorganisasi pada masa itu. menginjak semester II kelas XI barulah saya harus berjuang untuk mendapat anggota MPK dari setiap kelas yang masih punya tekad ‘mengabdi’ untuk sekolahnya. Alhasil hanya ada sepuluh anggota saja pada masa itu yang bertahan. Melihat hal tersebut sangatlah sulit untuk mengurus rumah tangga organisasi sendiri yang pada masa itu tak ‘diwarisi’ apapun dari kepengurusan sebelumnya. Gaya gerilliya MPK dalam menjalankan tugaspun kurang maksimal, diperparah dengan minusnya evaluasi kinerja OSIS. MPK pun bersinergi dengan OSIS untuk memaksimalkan seluruh proker yang telah direncanakan dan disepakati bersama. MPK menjelma menjadi penasihat (bukan pegawas lagi) dan rekan kerja OSIS dalam mewujudkan semua proker. Hal tersebut memang sudah dipertimbangkan oleh anggota majelis untuk meminimalisir isu gesekan antara majelis dengan OSIS yang sejak dahulu masih tercium keras diperiode sebelumnya.

Namun, keputusan majelis untuk menjadi ‘rekan’ OSIS membuat tugas utama MPK menjadi tidak selaras lagi. Hal tersebut disebabkan terlalu dekatnya OSIS dengan MPK begitu pula pada Ketua MPK dengan Ketua OSIS pada masa itu. Isu terlalu kentalnya OSIS MPK memang suatu hal yang positif dengan sangat rendahnya kasus perpecahan dikubu internal masing-masing. Tetapi kembali lagi hal itu menjadikan seolah dua ‘lembaga’ ini menjadi sebuah leburan yang satu dan istilah ‘Yang diawasi’ dan ‘Yang mengawasi’ pun hilang. Praktis MPK pun melupakan tugas utamanya sebagai pengawas OSIS.

Disisi lain majelis masih terus berusaha menjalankan tugasnya menjadi pengawas OSIS melalui jalan lain untuk menghindari gesekan dengan OSIS. Majelis menilai di’satukannya’ OSIS MPK menjadi hal yang bermuatan positif, dengan kata lain bahwa MPK tetap dapat menajalankan tugas sebagai pengawas dengan memberi masukan dan rambu-rambu kepada OSIS dalam melaksanakan prokernya. Hal itu dinilai majelis lebih efektif untuk menghindari isu perpecahan. (bersambung)

Iklan

One thought on “Tentang Majelis Perwakilan Kelas, Menjadi Ketua Bukanlah Suatu Pilihan

  1. Ini persis banget sama organisasi MPK di sekolah saya kak. Kelanjutannya dimana? Saya mau baca lagi. Bener bener persis seperti apa yang saya alami ka.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s