Kesan Pertama ke Unnes

20160531_113253n
Saat mengantri di gedung Auditorium Kampus Sekaran

“Yeee, cie yang jadi maba Universitas konservasi” Beberapa ucapan yang sedang trend ditimeline prosesor—otak saya (walaupun sebenarnya saya belum resmi jadi maba). Alhamdulilah kemarin selasa tepatnya pada tanggal 31 Mei 2016 menjadi tanggal yang bersejarah untuk saya, tanggal itulah yang akan menjadi awal tumpuan dan langkah-langkah kecil dari serangkaian perjalan perkuliahan saya, Insya Allah. Kemarin selasa adalah saat pertama kali saya datang ke Unnes (bohong deng, sudah pernah kesana eh) Iya pertama kali diundang dalam acara resmi maksudnya. Memang pada tanggal itu ada kegiatan pembekalan dan verifikasi di kampus Unnes Sekaran dan kebetulan berbarengan dengan tes SBMPTN wah bakal rame banget itu dan pasti nanti ada temen buat nebeng, eh. Nah saya kepengen cerita tentang setapak-setapak awal saya disana, karna biasanya kalau tidak saya catat ini pengalaman, biasanya aku suka lupaan, naruh pulpen saja sering lupa, hp kadang lupa, mantan kekasih aja lupa  siapa loh eh.

Nunut di cos tan sin kosan senior

“Kepikiran juga nanti tanggal 31 kan ada SBM, pasti jalan macet, masa mau laju?” Pikir saya saat itu. Akhirnya saya inget-inget kira-kira siapa yang bisa diajak bareng, entah kenapa akhirnya saya nge-chat Punky—teman satu sekolah saya. Dan akhirnya rezeki pun datang dari tempat tak terduga. Akhirnya saya bareng dengan Punky dan Isna—ini laki-laki loh, dan si Punky punya link dengan teman satu kampungnya yang menyewa kos didekat Sekaran dan saya pun ikut mereka nginep disana di hari Senin malam. Saya sendiri sebelumnya sangat bingung karena senior-senior (yang saya kenal) yang melanjutkan ke Unnes itu perempuan semua (tapi ternyata ada satu senior bantara laki-laki disana, asik ada link buat nunut lagi hehe). Saya nunut nginep dikos punya mas Ryan—seorang mahasiswa semester akhir Unwahas yang juga seorang atlet hebat, kosannya terletak didaerah Sampangan. Beliau baik sekali, bahkan beliau akhirnya tidur dikos sebelah karena tidak ingin menggangu kami—saya, Punky dan Isna.

Besok tes malah jalan-jalan

“Biar fresh Di, sekali-kali refreshing” Jawab Punky dan Isna serentak. Kedua teman saya itu memang harus mengikuti tes SBMPTN pada hari selasa, kalau saya mah bebas (Alhamdulilah saya sudah diterima di Unnes lewat jalur SNMPTN). Setelah meletakan perbekalan, setumpuk buku dan sekarung kenangan dikosan mas Ryan, kamipun pergi jalan-jalan (tapi naik motor ya) ke Unnes. Sebelumnya kami pergi ke kosnya Pak Rithon—Mahasiswa Unnes semester akhir yang pernah PLL di SMA kami. Setelah itu kami ber-empat muter-muter Unnes, kami dipandu oleh Pak Rithon untuk mengunjungi beberapa tempat yang akan kami kunjungi pada hari selasanya baik untuk ikut SBMPTN maupun untuk Pembekalan saya. Setelah beranjak malam, kami ber-empat pulang ke kosnya Pak Rithon dan pamit pulang ke Sampangan. Setelah muter-muter ternyata laper juga ya. Kami ber-tiga kembali muter-muter, kali ini di Sampangan cari tempat makan yang tempatnya bersih, masakannya kelihatan enak tapi murah hehe (dasar anak muda). Karena saking banyaknya pilihan, kami justru bingung dan terus muter-muter dan pada akhirnya K.O. juga karena perut yang terasa labat—laper hebat. Kami memilih salah satu tempat makan penyetan yang tempatnya cukup bagus. Tak tanggung-tanggung kami pesan makan seperti kesetanan, kami ber-tiga memesan tiga porsi lauk, enam porsi nasi dan enam gelas es teh, huh. Setelah membabat habis makanan itu, kami memutuskan untuk langsung pulang kekosan mas Ryan. Tak kuatlah kami untuk menahan kantuk selepas seharian diatas motor. Namun dikosan mas Ryan kantuk kami seolah menguap, kami justru ngobrol ngalor-ngidul sampai tengah malam, dan akhirnya satu persatu dari kami tumbang juga.

Jam tiga pagi

Udara dingin terasa berhembus timbul-tenggelam, kadang-kadang terasa ada hembusan, kadang-kadang hilang, dikamar yang gelap itu hanya saya yang bangun karena gangguan itu. “Buseett, kipasnya belum dimatiin” lirih saya. Dan saya ingat kalau Isna sebelum tidur semalam bilang kalau ia minta dibangunkan pukul tiga pagi untuk belajar (hebat kali dia mau belajar jam segitu). Saya lirik jam di handphone, lirikan matamu menarik hati lirikan saya kena dan mata pun mengirim sinyal melalui jaringan syaraf menuju pusat otak (duh, keingetan Biologi) ini sudah pukul tiga, oh waktu cepat sekali berjalan kala malam (malah curhat). Akhirnya saya membangunkan Isna, seperti dugaan saya dia tidur lagi. Sudahlah tidur lagi saja. Dan akhirnya tiga jomblo ini tertidur lagi. Eh si Punky engga jomblo deng, si Isna juga engga, ternyata hanya saya yang jomblo duh.

Ditinggal digerbang Unnes

gerbang barat

Setelah bangun dan bersiap-siap kami pamit—meminta ijin pada mas Ryan dan pergi ke Unnes. Duh macet, disana juga macet and macet everywhere. Akhirnya pukul 6.30 kami sampai digerbang Barat Unnes Sekaran. Akhirnya saya ditinggal sendiri digerbang karena Punky yang buru-buru mau ke gedung FT sedangkan Isna yang entah kemana. “Masa jalan sendiri ke Auditori? Mana masih agak jauh lagi”. Saya coba chat—mengirim pesan ke temen-temen yang ikut kegiatan pembekalan di Auditori dan mereka masih belum berangkat. Sendiri, jomblo lagi duh duh. Ditengah proses menunggu mu itu saya melihat ada dua orang diseberang gerbang sana. Saya coba mendekat dan berkenalan, paling tidak saya punya teman untuk menunggu disana hehe. Mereka adalah Ronal—maba FE dan Rio—maba FBS yang sama-sama dari Boyolali (kalau tidak salah sih). Mereka juga sedang menunggu teman yang bawa mobil. “Wah nanti ujungnya saya jalan sendiri kalau seperti ini” celetuk saya dalam hati. Setelah ngobrol, ternyata mereka belum pernah masuk ke Unnes sebelumnya. Dan akhirnya saya menawarkan kepada mereka untuk jalan bareng dengan saya, sekalian lihat-lihat Universitas Konservasi ini. Dan Alhamdulilah saya dapet dua teman untuk pergi ke Auditori. Selepas sampai di Auditorium Unnes, kami pun berpisah dan bertemu teman sekolah masing-masing, saya bertemu dengan Ninda dan Etika dengan teman baru mereka (saya lupa namanya). Memang dari SMA saya yang lolos SNMPTN ke Unnes hanya ada empat orang termasuk saya dan tiga orang itu perempuan semua (Ninda, Etika dan Annisa), nasibnya jadi laki-laki sendiri.

Sendiri lagi

Perasaan dari tadi saya sering menyebut kata ‘sendiri’ ya? Kalau di wordpress ada penghitung modus—nilai yang sering muncul pasti ‘sendiri’ jadi salah satu pemuncak. Ehm, sudah-sudah bahas apa sih ini. Pada saat acara Pembekalan camaba Unnes jalur SNMPTN dan SM-Mandiri Prestasi, ada sedikit hal yang membuat saya kelihatan apes—kurang beruntung, diacara terakhir yaitu pengumpulan berkas, prodi saya yaitu Teknik Informatika menjadi baris terakhir di barisan-barisan prodi lain di Fakultas MIPA. Nah saat akhir-akhir pengumpulan berkas, panitia memutuskan untuk membagi sisa barisan FMIPA menjadi dua kelompok untuk berbaris mengantri mengumpulkan berkas. Apesnya saya dan Iswandi—teman baru saya yang antri dengan nomor satu dan dua harus masih menunggu dan bersabar untuk meregangkan tubuh yang dari tadi duduk menunggu antrian, karena panitia menunjuk antrian nomor tiga dan seterusnya diprodi saya untuk maju ke meja verifikasi berkas, nah lo jadi penghuni bangku tempat duduk lebih lama deh. Dan kami ber-dua saling menatap tak percaya. Dan teman lain yang antri dibelakang kami yang akhirnya lebih dahulu selesai mengumpulkan berkas, satu persatu lewat disebelah kami dengan tatapan empati, kami memang patut dikasihani uh uhm. Akhirnya selesai juga saya mengumpulkan berkas, saya yang menjadi orang terakhir diprodi yang mengumpulkan berkas akhirnya juga ditinggalkan oleh Iswandi yang sudah pergi entah kemana. Nasib-nasib. Selepas keluar dari gedung Auditorium saya mencoba untuk menghubungi teman saya yang lain yaitu Ninda dan Etika. Dan jawaban keduanya sama, sudah pulang, lah sendiri dikeramaian ini? Kembali lagi saya harus pakai jurus sok perhatian; mencoba berkenalan dengan orang sekitar hehe. Namun apa daya, Punky yang sudah menyelesaikan tes SBM terjebak macet saat akan menjemput saya dan Isna yang entah kemana lalu teman baru saya yang saya persilahkan untuk pergi karena mereka juga sudah ditunggu teman yang lain. Tak apalah anggap saja saya Diberi waktu untuk membaca brosur-brosur yang berjibul—terkumpul banyak ditangan saya. Akhirnya dengan bersandar di salah satu tiang Auditori saya mencoba membaca satu-persatu brosur tersebut dan menunggu Punky.

Ternyata siomai mempertemukan kita

Saat membaca brosur ditangan, saya juga sesekali melihat sekeliling, berharap si rambut berdiri—Punky itu datang, hmm nihil dia engga kelihatan disana-sini. Saya coba melempar pandangan ke sekitar lagi dan terlihat si Isna (Dia laki-laki lho ya) datang. Alhamdulilah ketemu temen, lega deh. Dan setelah itu saya tanya kenapa dia datang ke Auditori, ternyata dia datang kesini karena ingin membeli siomai—camilan khas daerah didepan gedung ini (dia baru saja tes SBM di gedung daerah FMIPA yang dekat dengan Auditorium), lah kirain ini orang mau jemput aku! Tak apalah yang penting ada temen ngobrol. Tak lama berselang lama si Punky datang juga. Dan akhirnya kami memutuskan untuk langsung pulang ke Kendal.

Sebenarnya masih banyak tapak-tapak yang belum saya abadikan diblog ini seperti tentang kontak motor yang hilang, kecelik dan kena trik dari pedagang, cuma ini kok kelihatannya sudah panjang banget ya, dan saya ingat kalau saya belum mandi makan. Yasudah, enjoy reading.

Kendal, 1 Juni 2016. Ini cerita 1400 kata pertama kali loh

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s