Oleh-Oleh Paling Berharga

oleh oleh plg berharga 2.jpg

Assalamu’alaikum

Ehemm, hari ini aku sedikit ingin mengulang kembali kesan-kesanku sebagai mahasiswa baru di Kampus Konservasi—Unnes. Iya, Alhamdulilah aku telah resmi menjadi mahasiswa dikampus eks-IKIP tersebut. Tentu setelah aku melewati serangkaian petualangan, melewati setapak-setapak yang tidak sedikit. Sebelum resmi menjadi mahasiswa, aku memang harus mengikuti kegiatan tes kesehatan dan verifikasi lapor diri pada tanggal 8 dan 9 Juni 2016 (khusus untuk prodi di FMIPA).

Ini sebenarnya merupakan cerita kedua dari kesan-kesan disana, yang sebelumnya juga pernah aku ceritakan di setapak Kesan Pertama ke Unnes ini. Karna mungkin cerita kali ini agak panjang sih, jadi aku ceritakan menjadi beberapa setapak. semua bermula sejak aku lahir ehh. Engga maksudnya semua bermula ketika aku sampai di Masjid Ulul Albab.

Selasa 7 Juni 2016, Hari Pertama

Setelah makan Sahur dan sekaligus sholat Subuh, aku mengambil ransel dan satu buah tas lagi untuk tempat beberapa potong pakaian. Tiga hari bukanlah waktu yang sebentar maka aku harus mempersiapkan dengan baik berkas-berkas, pakaian maupun uang untuk membeli sedikit perlengkapan dan membeli makanan untuk berbuka dan Sahur disana. Hari ini merupakan hari kedua Puasa. Setelah perlengkapan aku rasa lengkap, aku memutuskan pamit kepada kedua orang tua dan berangkat menuju Gunung Pati pada pukul 5.00 pagi. Aku mengendarai motor untuk menuju kesana, sebelumnya aku pergi ke rumah Etika—teman satu sekolahku yang lolos lewat jalur yang sama denganku. Dia bilang tidak ada teman yang bisa diajak bareng maka akhirnya dia ikut berangkat bareng denganku, kebetulan jadwal tes kesehatan dan verifikasi kami sama yaitu pada tanggal 8 dan 9 juni. Mengingat kegiatan tes kesehatan itu dimulai pukul 8 pagi pada hari selasa sedangkan biasanya jalan menuju Gunung Pati umumnya sering macet tentu kami sebagai camaba yang masih bergemuruh semangatnya pasti tidak ingin telat hehe, kamipun memutuskan untuk berangkat ke Gunung Pati pada hari senin tepatnya tanggal 7 Juni.

Sampai di MUA—Masjid Ulul Albab

mua 2 ed
Masjid Ulul Albab – src: teguhtsuyoi.com

Jam dihandphoneku menunjukkan pukul 6.20 pagi, Alhamdulilah perjalanan lancar dan dapat selamat sampai tujuan. Ternyata diluar dugaan, jalanannya masih kosong banget hehe. Setelah mengatar Etika ke kosan kakaknya, aku menuju ke Masjid berarsitektur keren ini. Masjid Ulul Albab seolah menjadi tempat paling afdhol—paling baik untuk para pelancong. Aku teringat ketika pada tanggal 30-31 Mei kemarin dimana banyak sekali teman-teman seangkatanku yang menginap dimasjid ini sebelum mengikuti tes SBMPTN. Yaps, tidak salah memang tempat ini menjadi primadona, dengan letaknya yang dekat dengan jalan utama ditambah dengan arsitektur menawan dan udara yang sejuk, pastinya menjadi tempat yang sangat nyaman untuk beribadah maupun untuk tempat beristirahat sejenak.

Sesampainya di MUA hal yang diluar ekspektasiku terjadi—diluar dugaanku, kakak kelasku Mas Ihza—kakak kelas yang untuk beberapa hari mendatang bersedia aku tunuti—ikut tinggal sejenak dikosannya tiba-tiba mengirim pesan singkat padaku. Kira-kira pesan singkat tersebut berisi tentang ia yang sedang ada urusan dan baru bisa menjemputku di MUA pada sore hari. Ealah terus aku disini sama siapa? Jika aku ingat-ingat memang sejak dahulu aku sering sekali mengawali suatu awal dengan label sendiri (nah curhat lagi ini orang). Iya memang benar kok, ketika aku lulus SD dan melanjutkan ke SMP aku adalah satu-satunya anak dari SDku di Boja yang melanjutkan sekolahnya di SMP di Kota Kendal, ketika aku lulus SMP aku adalah siswa laki-laki satu-satunya dikelasku X5 yang lulusan dari SMPku dan yang ini aku adalah siswa laki-laki satu-satunya yang ke Unnes lewat jalur SNMPTN, walaupun ada 3 teman lainnya yang lolos SNM ke Unnes tapi itu perempuan semua, jelas dalam pergaulan tentu terasa beda dan tidak bisa selalu bareng. Ehmm sampai dimana aku tadi hehe. Aku berpikir sejenak dan akhirnya menyalakan handphoneku dan meng-chat teman-temanku satu prodi digrup BBM. Naas, mereka semua belum ada yang datang ke Sekaran pagi ini. Aku lempar pandanganku kesekitar, masih agak sepi. Akhirnya aku melihat ada tiga orang laki-laki di Serambi depan MUA. Aku menfokuskan pandanganku kesana, pas! Sepertinya mereka itu maba (karna kelihatan masih muda-muda hehe). Aku kesana, ternyata benar mereka adalah maba. Lebih tepatnya dua orang maba dan satu orang lagi adalah orang tua maba yang sedang bercerita sesuatu disana. Aku menyapa mereka dan merekapun menawariku untuk ikut bergabung. Kamipun mengobrol ngalor-ngidul.

Menjelang siang

Setelah mengobrol dengan mereka. Tepat pukul 9.00 pagi kamipun satu per-satu pergi untuk mengerjakan keperluan masing-masing. Bapak-bapak yang bersama kami tadi sudah pergi untuk mengantar anak perempuannya untuk menyelesaikan segala administrasi perndaftaran, sedangkan kedua teman maba yang lain juga akhirnya pamit pergi untuk keperluan yang sama, mereka ber-dua memang berasal dari daerah yang sama dan sekolah yang sama yang juga sama-sama masuk Teknik Sipil (ciiee samaan terus yah). Pada pukul 9.00 pagi itu menjadi perpisahan kami—aku dan dia ehh mereka. Sekarang, tinggal aku sendiri, terpaku menatap langitttt…. (malah nyanyi). Disaat seperti inilah terkadang perasaan selalu sendiri seperti yang telah aku jelaskan diatas muncul. Kenapa aku selalu sendiri? (jomblo sihhh!) Tapi saat perasaan itu muncul, aku selalu mencoba untuk menyemangati diriku, jika dibayangkan, aku lebih beruntung dibandingkan teman-temanku karena aku tak perlu kesusahan untuk mengikuti tes, tak perlu lagi khawatir akan hasil tes dan tak perlu cemas akan kemana setelah lulus. Dan yapss, perasaanku sedikit mereda dan mulai bersahabat dengan kesendirian. Aku lihat sekeliling, banyak mahasiswa maupun entah maba atau orang sekitar yang juga sendiri. Namun mereka sibuk dengan keperluan masing-masing, ada yang sedang mengerjakan tugas ditemani setumpuk buku, ada yang sedang mengutak-atik laptopnya, ada yang sedang sekedar membaca buku, dan ada pula yang melamun bahkan tidur, tapi ada satu hal yang aku pelajari yaitu mereka tidak sedikitpun terganggu dengan status ‘sendiri’ saat itu. Iya-yah, setelah ini kan aku bisa berkumpul lagi dengan teman-teman, keluarga maupun kekasih hati (baca: Laptop. Biar engga kelihatan jomblo hihihi).

Tetaplah yang Ia Rencanakan tentu yang terbaik

Aku sudah beranjak dari serambi MUA dan berpindah kesebelah utara, tepatnya di dekat tempat Wudlu laki-laki (iyalah masa aku nyelonong ke tempat Wudlu perempuan!) disana ada sebuah kolam ikan yang dekat dengan tempat Wudlu dan toilet, tempat ini agak rendah dan disekitarnya tumbuh banyak pohon yang menjadikan hama begitu sejuk, pantes disini banyakan yang tidur hehe. Sembari membaca majalah Elfata milik kakakku yang aku bawa, sesekali pikiranku terbang menuju ingatan sehari sebelum aku kesini, dimana aku sudah merencanakan sebaik mungkin dan lengkap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi disini. Salah satunya adalah tentang satu hari lebih awal datang kesini sebelum hari tes kesehatan berlangsung. Iya, aku sudah merencanakan kesini awal dan nanti bisa nunut di kosan mas Ihza sejak sampai pagi tadi dan jika mas Ihza tidak bisa menjemput pagi maka aku bisa nunut ditempat kosan teman-temanku satu prodi. Dan apalah daya, rencanaku melenceng jauh. Kenyataannya mas Ihza sibuk dan baru bisa menjemputku menuju kosannya disore hari (sengaja aku tidak jadi meminta alamat kosannya karena aku pikir jika aku langsung kekosannya mas Ihza tanpa ia bersamaku pertama kali, tentu pasti akan sangat membuat canggung dan mengherankan, iki cah endi langsung nyelonong masuk kosan orang hehe) dan rencanaku untuk nunut dikosan teman satu prodiku kandas, mereka semua belum ada yang sampai ke Sekaran pagi ini. Aku semakin larut dalam lamunanku dan melupakan majalah yang sedari tadi terbuka ditanganku.

Lamunanku buyar ketika reflekku melihat ke sebelah kanan dan melihat Ronal lewat disebelahku masuk menuju MUA. Awalnya aku ragu apakah itu dia dan acuh karna mungkin itu bukan dia. Namun perasaanku tidak bisa dihalau, reflek pula aku mengikutinya dan menyapa dia, dan benar! Itu adalah Ronal, teman yang pertama kali aku temui ketika pertama kali ke Unnes (baca ceritanya disini nihh hehe) Iya teman yang pertama kali aku temui digerbang barat Unnes Sekaran. Kala itu pun sama, aku juga sendiri dan melihat Ronal dengan Rio di seberang gerbang barat, dan aku pun masuk bersama-sama mereka kala itu dan mereka pun menyelamatkanku dari kesendirian. Dan kisah yang sama pun terulang kembali. Tatkala aku sendiri dan tak tahu akan kemana dan bersama siapa, Yang Maha Kuasa memberiku jalan dengan mempertemukanku dengan Ronal, sekali lagi tetaplah yang Ia Rencanakan tentu yang terbaik. Aku tak pernah terpikir untuk bisa bertemu dengannya—Ronal dan Rio lagi, karena memang kami beda prodi dan kamipun hanya sekedar teman baru bertemu dan aku pun lupa untuk meminta kontaknya kala itu. Setelah aku menyapanya, ia mengajakku untuk sholat Dhuha. Setelah sholat kami mengobrol dan aku menceritakan permasalahanku bahwa aku disini menunggu kakak kelasku sendiri. Ia juga sedang sendirian karena si Rio sedang mengikuti tes kesehatan (tanggal 7 juni memang jadwal pelaksanaan tes kesehatan untuk prodi di FBS) Setelah itu dia menawarkanku untuk ikut dengannya ke kosannya dan aku meng-iyakan tawarannya daripada aku harus sendiri disini. Dan sekali lagi, akan senantiasa ada Pertolongan dari-Nya. Kosan Ronal dan Rio ternyata sangat dekat dengan MUA, hanya perlu bebrapa menit saja aku dan Ronal sudah sampai disana. Ternyata mereka menyewa kosan dari sejak sebelum tanggal 31 Mei hingga nanti setelah seluruh kegiatan pendaftaran terselesaikan. Kosannya cukup bagus, ada kamar mandi dalam, tv, kipas angin dan yang menjadi treasure bagiku adalah banyak sekali buku-buku bagus yang sangat menarik untuk dibaca (dasar kutuu bbuuuukkkuuuu haha). Kami disana kembali ngobrol ngalor-ngidul dan aku tak lupa mengambil satu buku keren yaitu buku tentang perjalanan hidup Pak Chairul Tanjung pemilik CT Corp. Dari obrolan tersebut aku menangkap kesimpulan bahwa mereka—Ronal dan Rio adalah orang-orang hebat yang sering menjadi juara kelas dan sudah sering malang melintang dalam lomba atau kejuaraan hingga tingkat Provinsi (assiikk ketemu dengan calon-calon orang sukses haha). Menjelang sore sekitar pukul 14.30 si Rio akhirnya pulang. Dia mendapat antrian akhir karena datang terlalu siang. Tak berselang lama, terdengar Adzan waktu Ashar dan kami akhirnya pergi bersama-sama ke Masjid Ulul Albab. Setelah Sholat Ashar kamipun berpisah, mereka pulang kekosannya dan aku pun sudah dijemput oleh mas Ihza.

Buka bersama dengan Ikatan Mahasiswa Indramayu

Akhirnya aku sampai dikosan mas Ihza, tempatnya lumayan jauh dari kampus dan agak masuk ke dalam gang. Setelah disana aku dipersilahkan untuk istirahat sebentar dan aku pun meletakkan tas-tas yang sedari tadi mencari tempat berlabuh hehe. Kosan mas Ihza merupakan rumah yang memiliki lima kamar dengan delapan penghuni (manusia semua yahh). Setelah mandi dan berganti pakaian aku duduk diruang tengah dan berkenalan dengan para pelajar serta para pendekar skripsi disana (ada empat orang yang sudah semester akhir). Menjelang datangnya waktu berbuka, aku memutuskan untuk berbuka dengan si Ronal dan Rio karena mas Ihza sedang pergi dan rasanya kurang enak jika aku ikut berbuka dengan para senior disana tanpa ada kakak kelasku. Kami bertemu di MUA dan aku diajak ke tempat makan yang dekat dengan MUA, aku lupa nama tempatnya, disana mereka bersama dengan dua teman perempuan mereka yang lain yang sama-sama berasal dari Indramayu, disana juga ada lima orang kakak senior (perempuan semua seniornya) dari Indramayu dan ternyata itu adalah acara buka bersama Ikahasi—Ikatan Mahasiswa Indramayu. Setelah berkenalan dengan mereka ternyata ada satu dari kakak senior itu yang dari Imaken—Ikatan Mahasiswa Kendal, dalam hati aku bersyukur ternyata aku tidak tersesat, paling tidak ada yang lebih dahulu tersesat hihihi. Kak Nia adalah kakak senior dari SMA Kaliwungu yang berteman baik dengan kak Nur—anggota Ikahasi yang terlihat seperti koordinator bukber ini. Sembari menanti buka, kami bercerita banyak, aku juga tak lupa ikut berbagi cerita bersama mereka, walaupun terkadang mereka secara reflek menggunakan bahasa daerah mereka yang sama sekali aku tidak paham tapi itu justru menjadi hal yang asik untuk dibahas bersama-sama dan si Ronal pun seolah menjadi translator untukku haha.

Merdunya suara Syaikh Ahmad Syarif

Hari penuh keajaiban ini ditutup dengan Sholat Tarawih berjamaah yang diimami oleh seorang Syaikh dari Palestina di MUA. Ini merupakan salah satu kegiatan yang diselenggarakan oleh UKKI Unnes yang bekerjasama dengan Syam Org. Merdunya suara dari Syaikh muda kelahiran 1994 ini membuat shalat kami semakin khusyuk. Rasanya gimana gitu haha. Sebelum shalat dimulai pihak panitia dari UKKI juga membacakan CV dari Syaikh yang bernama Ahmad Syarif tersebut. Dan ketika panitia sampai pada pembacaan tanggal lahir terdengar suara yang begitu riuh dari jamaah perempuan yang tempat sholatnya berada di lantai tiga. Haaaaaaa!!! suara yang serentak dan mengagetkan para jamaah laki-laki, dan kami hanya bisa senyam-senyum ketika mendengar teriakan dari atas. Memang agak mengagetkan seorang yang baru berumur sekitar 22 tahun sudah menyandang gelar ‘Syaikh’ dan sekarang beliau sedang melanjutkan study S-2 nya di Madinah. Setelah Sholat kami mendapat wejangan dari beliau yang tentu berbahasa Arab dan diterjemahkan oleh seorang pantia dari Syam Org.

ukki 2 ed
Ada yang tau aku dimana? Haha

Gemerlap kehidupan malam disini benar-benar terasa. Daerah Sekaran seolah menjadi surga kuliner dengan segala kesibukannya. Setelah selesai Sholat Tarawih di MUA kami—aku, Ronal dan Rio duduk-duduk diserambi MUA sebentar lalu memutuskan untuk pulang.

Bersambung…

Alhamdulilah cerita setapak di hari pertama dari tiga hari serangkaian kegiatan pendaftaran disana selesai. Nulisnya pakai ngantuk-ngantuk segala dan ditambah segelas es susu ehhh puasaaa! Oiya maaf. Ditambah secangkir kenangan tambah sedikit gula perasaan ehemm. Lumayan lama loh nulis cerita ini, nulis selama tiga hari coba! Ya-iyalah nulis lima menit ngalamunnya setengah jam, nulis satu baris nonton tvnya satu jam hedeehh! Hehehe, yaps happy reading yakk. Dan sampai jumpa di setapak selanjutnya 🙂

Kendal, 15 Juni 2016. Mengingat-ingat kenangan pendaftaran 7, 8 dan 9.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s