Melankolis Kampung Halaman

MELANKOLIS KAMPUNG HALAMAN ed.jpg
Doc. pribadi

Ada hal yang mendalam disini, siang ini aku merasakan kembali banyak kenangan yang terjadi selama lebih dari dua belas tahun. Suasana yang mengayunkan dan benar-benar mampu mendesak semuanya disini. Minggu, 26 Juni 2016 aku mengunjungi kediaman kakek dan nenek di Singorojo, Kendal. Tempat yang tidak asing, tempat terpendamnya semua hal yang pernah aku punya; cerita masa kecil, iya tempat ini adalah kampung kelahiranku.

Aku kembali lagi melihat tempat-tempat dimana terlalu banyak hal terjadi. Memoriku kembali menelusuri setapak-setapak masa lalu disetiap jengkal langkah disini. Betapa dalam apa yang aku rasakan ini dan entah bagaimana aku mengungkapkannya dalam tulisan. Aku terhanyut begitu dalam, bahkan hingga saat aku menulis kembali memori-memori yang ku ingat, kembali aku pun terhanyut. Aku tidak tau apakah masa kecilku itu indah atau tidak. Yang aku ingat aku selalu merasa beruntung diasuh oleh orang yang begitu menyayangiku dan dapat berteman degan begitu banyak teman yang baik. Meski banyak pula hal yang tak mungkin aku ungkapkan disini.

Sebenarnya selalu ada rasa rindu yang menggebu setiap kali pada tempat ini. Namun entah baru hari minggu ini aku dapat mengunjungin tempat ini lagi sejak beberapa bulan yang lalu. Memang belakangan ini aku masih sibuk dengan beberapa keperluan baik itu keperluan pendidikan, sosial maupun hal yang aku kira tidak terlalu penting. Kunjunganku kali ini sekedar untuk mengantarkan kue-kue lebaran untuk Kakek dan Nenek. Sebenarnya aku ingin sekali bisa menginap semalam disini tetapi aku ingat bahwa di rumah malam ini akan ada gawe dan besok senin pagi aku harus pergi ke Semarang bersama Bapak.

Aku berangkat dari Kota Kendal menuju Singorojo pukul 6.00 pagi dan sampai disana sekitar pukul 7.20 wib. Perjalanan yang tidak terlalu lama namun begitu banyak memori yang bersarang kembali disetiap jengkal jalan yang kulalui. Aku ingat dimana aku menonton pertandingan sepakbola disini, memori yang sudah begitu lama bersama teman-teman satu kampungku kala itu. Aku ingat pula hal yang masih sedikit segar di Bumi Perkemahan Parikesit bersama-sama rekan dan keluarga Perwirada. Kenangan lain pun silih berganti menggandengku. Aku terbawa pada satu bingkai foto tentang hal-hal yang dulu sering aku lakukan di sekitar Pasar Boja. Tak berhenti disitu, aku pun ingat ketika aku terjebak hujan dimalam hari dan harus berteduh disalah satu SD disini. Aku ingat perjalanan berjalan kakiku melewati tengah hutan hanya demi belajar di TK. Aku ingat sekali ketika dinasehati Guru Ngajiku saat aku tidak berangkat. Aku ingat ketika sebelum berangkat Ngaji aku berbagi satu buah kue hasil iuranku dengan suadaraku. Aku ingat betapa bahagianya aku dikala lari dari rumah lalu hujan-hujanan ditengah hutan. Aku ingat betapa sakit dipukul dengan penuh kasih sayang menggunakan ranting oleh Nenek ketika aku pulang larut malam tanpa pamit—ijin. Sungguh memori masa kecil bergemuruh saling bersahutan.

Sesampainya di rumah masa kecilku aku langsung memeluk kedua “orang tua ku” semasa kecil. Seharian ini aku sedikit mengais memori ditempat-tempat sewaktu dulu aku disini.

Kendal, 26 Juni 2016. Melankolis ini benar-benar

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s