My First Time Making Break Fasting Menus

my first time of
My first time making break fasting menus. Src: Al-uyeah.blogspot.com

Ini engga penting banget yah hehe, gapapalah sharing cerita sedikit

Sore ini Bapak dan Ibuk berkunjung ke Singorojo. Seperti yang pernah aku ceritakan sebelumnya pada Melankolis Kampung Halaman, setelah pada hari minggu kemarin aku yang lebih dahulu berkunjung kesana dan dibuat benar-benar merasakan suasana melankolis yang dalam, sekarang giliran Bapak dan Ibuk yang mengunjungi Kakek Nenek disana. Dan itu berarti aku dipaksa untuk berbuka puasa sendiri dirumah (jadi kangen Mbak :’) ).

Sebenarnya itu tidak menjadi masalah karena aku bisa membeli takjil dan lauk untuk berbuka disini tetapi menjadi sebuah masalah ketika warung-warung di Bugangin sudah mulai tutup karena menjelang Hari Raya, wahhhh. Setelah muter-muter kampung aku hanya menemukan beberapa lapak pedagang yang sudah benar-benar dikerumuni warga, karena memang sudah sedikit sekali yang masih buka kalik ya, jadi primadona deh lapaknya hehe. Karena itu aku tidak jadi membeli karena takjil dan lauk yang sudah hampir habis, aku juga tidak mebeli dipasar karena motor hijau kesayanganku sedang dibawa Bapak dan Ibuk ke Singorojo.

Karena tidak ada pilihan akhirnya aku memutuskan untuk masak sendiri aja. Lhoh bisa masak kamu!? Bisa dong, aku pinter masak loh, cuman ketutupan engga bisanya aja hihihi. Aku lihat dikulkas ada tempe dan juga beberapa telur. Oke, aku akan masak gorengan dan telur ceplok! (maklum koki dadakan hihihi). Karena ternyata nasinya habis aku akhirnya juga memasak nasi sendiri, ciee mandiri. Aku pikir tidak perlu nyontek tutorial untuk membuat nasi, gengsi dong masa masak nasi aja harus baca tutorial. Setelah peralatan dan bahan siap, aku mulai memasak! masak nasi hehe. Pertama sesuai yang dulu pernah diajarkan Ibuk, aku cuci dahulu berasnya kalau disini istilahnya “mesusi” setelah itu aku masak berasnya di kompor dan kemudian aku pindah ke Rice Cooker. Ini kok ceritanya malah jadi kayak tutorial memasak nasi ya? Apa perlu aku ganti judulnya jadi “How to cook rice for beginner” haha.

Setelah nasinya matang (alhamdulilah suksess) aku kemudian membuat gorengan tempe—mendoan (baca; men-do-one). Ada kesalahan yang lucu disini, dimana aku mebuat mendoan dengan tepung beras! Untung sebelum aku goreng kebetulan Mbah—nenek dari Bapak, datang kerumah dan akhirnya ketahuan bahwa aku salah menggunakan tepung, yang benar ternyata harus menggunakan tepung gandum. Hmm, akhirnya aku belajar, aku pikir itu sama. Aku jadi ingat ketika praktikum Biologi dulu di SMA ketika aku tidak bisa membedakan antara Tepung Gandum, Beras dan serbuk susu formula. Ketika itu, saat praktikum Bu Mis—guru mapel Biologiku mendatangi meja praktikumku dan bertanya tentang bahan-bahan yang aku pakai, disana ada lima belas macam sampel bahan dan aku diharuskan menggunakan sepuluh darinya. Kebetulan dari sepuluh yang aku pilih itu ada tiga sampel bahan yang wujudnya tepung semua. Dan Bu Miss saat itu tanya justru hanya pada tiga sampel tepung itu (sepertinya Bu Miss paham kalau aku tidak mudeng dengan ketiga sampel ini). Pertanyaannya simple sekali tetapi benar-benar skak mat. “Di.., tiga tepung ini apa saja?” Waduh dalam hati aku bingung dan terus bertanya-tanya, agar kelihatan tahu aku mencoba untuk meraba dan mengenali tekstur ketiga tepung itu dan juga mencoba untuk mengenali warna dan aromanya. Setelah beberapa waktu, aku masih saja berpura-pura mengenali ketiganya dan Bu Miss yang sepertinya tahu persis bahwa aku tidak tahu, dan langsung memotong aktivitasku kemudian akhirnya beliau menjelaskan tentang ketiga tepung itu (sejak malem persiapan praktikum sampai pagi ternyata dapat pertanyaan tak terduga! duhh duhh). “Tidak pernah masak ya Di?” Hehe iyyyyaaaaa Buuuu 😀 . Masa SMA yang indah 🙂

Dan akhirnya jadi deh Mendoannya haha

Src: gebygemuk.blogspot.com

Ehh, salah gambar! Ini yang bener:

Setelah itu, aku memasak telur ceplok dan mbah membuatkan sambal sebagai pelengkapnya. Dan setelah waktu berbuka tiba Mbah pulang dan kembali lagi dengan membawakanku satu mangkuk Sayur bening. Alhamdulilah meski sederhana tetapi penuh makna hehe. Meski rasa dari nasi dan Mendoannya masing jauh dari harapan namun cukup lumayan untuk si koki kutu buku ingusan ini 🙂

Oh, that’s what I call “study” to practice what we have learned before. Maybe 😀

Kendal, 3 Juli 2016. Pesona Ramadhan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s