Kamu Harus Punya Warna

cover cerita kamu harus punya warna
Img src: Google.com

Bismillah,

Ini bukanlah sebuah artikel, ini hanya sedikit curhatanku kepada teman minggu kemarin (biasakan ngrumpi ngobrol yang baik ya hehe). Kali ini aku juga ingin berbagi cerita disini, semoga saja bermanfaat 🙂

Semua berawal ketika aku menginjakkan kaki dikelas tiga Sekolah Menengah Atas. Selain pikiran terfokus dan dirundung pilu akan datangnya UN aku juga sedikit berkontemplasi—berpikir sejenak untuk meng-evaluasi diri, apa sih yang sudah aku lakukan selama dua tahun di SMA? Pertanyaan itu menjadi bahan ceritaku kali ini. Memang selama dua tahun di SMA banyak hal yang pernah aku ikuti baik itu organisasi, perlombaan, ekstrakurikuler ataupun hanya sekedar jeng-jeng bersama teman-teman, banyak memang tapi aku tetap merasa ada hal yang tidak ku temukan di dalam diriku, sedangkan aku melihat banyak temanku yang sudah memilikinya. Apakah itu? Itu adalah warna, atau mungkin bisa disebut bidang.

Kenapa Harus Punya?

Aku memang memiliki lumayan banyak hal yang digeluti di masa SMA, tetapi tetap saja hal itu tidak terlalu penting ketimbang orang lain yang sudah memiliki warnanya. Aku sedikit mengutip materi yang pernah disampaikan Mas Faiz (Aktivis PMII) saat memaparkan pendapatnya di salah satu kegiatan BPUN 2016;

“Saya ingat pesan Gus Mus saat dulu saya ngaji, yaitu ‘Kudu ndue werno’ yang artinya kita itu harus punya warna. Saya ada contoh yaitu ketika dulu saya pergi menuju India, di pesawat mau tidak mau penumpang harus menikmati (hanya disajikan) masakan-masakan khas India dan kita yang harus menyesuaikan dengan budaya (masakan) mereka. Tetapi ketika saya kembali ke Indonesia kita dihidangkan masakan-masakan internasional sesuai yang kita inginkan, seolah Indonesia yang harus menyesuaikan lidah mereka. Inilah yang menjadikan Indonesia dengan beragam budaya yang sangat beragam namun kalah bersaing dengan budaya negara lain dikarenakan mental anak-anak bangsa yang tidak menjungjung budayanya, sama halnya dengan kita yang umumnya hanya ngikut sana-sini tanpa mempunyai warna diri yang menjadikan kita mudah diijak-injak dan dicorat-coret oleh orang lain, karena kita polos, tanpa warna*”

*Pemaparan beliau dengan sedikit perubahan bahasa tanpa mengurangi esensi.

Nah berdasarkan pemaparan beliau kita bisa memiliki sedikit gambaran betapa pentingnya warna diri itu. Hal ini pula yang menjadikanku ingin berbenah.

Kembali ke ceritaku, aku ingat diriku sama halnya dengan anak polos yang hanya ikut sana-sini tanpa mendalami satu dari hal yang aku ikuti, tentu ini merupakan masalah kecil karena aku masih di masa SMA, namun bukan berarti bisa diremehkan. Sebagai contoh nyata lagi ketika aku sadar banyak dari temanku yang fokus pada salah satu bidang dan sudah sukses meski baru seumuran denganku. Ada teman yang aktif di bidang musik dan dia sudah malang-melintang kemana-mana dan diikuti dengan sederet prestasi hingga provinsi, ada pula yang aktif menggeluti dunia kepramukaan dan juga aktif di organisasi kepramukaan diluar sekolah dan pastinya memiliki koneksi yang lebih luas dan tidak hanya terkurung dilingkup sekolah saja, ada pula yang menggeluti dunia akademis hingga mengantarnya ditingkat nasional di OSN. Itu merupakan sedikit contoh nyata dari kesuksesan mereka dikarenakan mereka konsisten pada warna mereka.

Sedangkan aku apa? Oke memang aku banyak mengikuti berbagai bidang disekolah, tetapi itu hanya ditingkat dasar, hanya dilingkup sekolah dan tanpa merperluas koneksi ataupun memperdalam materi. Aku aktivis namun tidak mampu memberikan totalitas pada salah satu yang aku ikuti dan sama saja aku seperti kutu loncat. Hal itulah yang menjadi bahan evaluasiku dan berharap aku segera menemukan bidang yang akan menjadi warna pada diriku.

Sebenarnya sah-sah saja aktif dalam berbagai bidang namun harus tetap ingat bahwa kita juga harus punya warna, paling tidak memperdalam ilmu dan koneksi pada salah satu bidang yang kita tekuni.

Semoga Allah menuntun kita ke jalan yang lurus 🙂

Kendal, 23 Juli 2016. Sebuah evaluasi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s