Sehari di Taman Mini Jateng

20160728_131410 cov
Didepan salah satu anjungan TMJTI. Doc. pribadi

Bismillaah,

Puri Maerokoco menjadi satu dari dua destinasi pelepas penatku kemarin. Aku sengaja meluangkan waktu sehari kesana sebagai hadiahku sendiri yang telah menyelesaikan membaca satu buah buku dua minggu ini. Ritual ini memang sudah beberapa kali aku lakukan dimana aku selalu menyempatkan untuk merayakan keberhasilan-keberhasilan yang aku dapat meskipun itu hanya sebuah hal kecil, tentu dengan catatan tidak secara berlebihan dan tetap di iringi dengan ucapan syukur. Aku menggemari kegiatan traveling atau hanya sekedar jalan-jalan ke suatu tempat yang belum pernah aku jajaki, meskipun aku jarang sekali melakukannya (maklum anak rumahan hihi).

Nirwana yang Terlupa adalah judul sebuah ulasan di majalah karya salah satu UKM di Upgris yang pernah aku baca ketika kelas XI dahulu. Meski ulasan itu berisi sebuah keprihatinan tentang “kurang” terawatnya objek wisata ini tetapi hal tersebut tidak menghentikan langkahku untuk mengunjungi Nirwana yang meski sudah terlupa ini. Puri Maerokoco atau juga disebut Taman Mini Jawa Tengah Indah terletak disebelah barat kawasan PRPP atau Jateng Fair. Kawasan ini dihiasi dengan berbagai anjungan dari 35 kabupaten dan kota yang ada di Jawa Tengah. Harga tiket masuk ke kawasan ini sekitar Rp 7.000 dan Rp. 8.000 untuk weekend (dapat berubah sewaktu-waktu).

Kali ini aku bersama dengan Punky, sebenarnya pengen ngajak teman-teman lain tapi mereka masih sangat sibuk, ciee berdua saja haha. Objek wisata ini agak lengang dan sepi karna memang ini bukan weekend tetapi masih ada beberapa pengunjung yang terlihat. Kami sampai disana sekitar pukul 12.00 siang. Setelah sholat Dzuhur kami mengabadikan objek di beberapa anjungan dan miniatur disana. Ada pula gua yang meskipun agak “mini” tetapi keliahan eksotis. Memang agak disayangkan “surga” Jateng ini sedikit kurang terawat. Yang sedikit membuatku bingung yaitu tentang parkir kendaraan terutama motor, aku melihat sekeliling tidak terdapat parkir untuk motor dan pengunjung yang datang pun mengendarai motor dan memarkirnya disekitar anjungan yang mereka kunjungi, aku kurang paham apakah memang disengaja oleh pengelola bahwa pengujung dapat mengelilingi kawasan ini dengan kendaraan sehingga tidak disediakan tempat parkir digerbang depan. Memang kawasan yang luas ini akan lebih mudah dikelilingi menggunakan kendaraan terutama motor namun akan lebih elok jika pengunjung diharuskan untuk berjalan kaki, sehingga pengunjung akan dapat menikmati setiap langkah di Nirwana ini, tetapi bagaimanapun ini tetap menjadi pilihan pengunjung masing-masing yak hehe.

Setelah Lelah berkeliling di Puri Maerokoco, kami juga mengunjungi Museum Ranggawarsita Semarang, tidak asing dong dengan museum ini, meski begitu ini kala pertama aku masuk ke sini haha. Museum ini cukup luas dan bagus tapi sepi banget, banget deh, sudah kayak gua fosil haha. Serius sepi sekali, serasa ada di film “Night at the Museum” hehe.

Selepas menghirup udara penuh ilmu sejarah di Museum, kami pun pulang dan mampir di salah satu tempat makan baru di daerah Kaliwungu, asik makan enak hehe. Alhamdulilah setapak hari kamis itu menjadi salah satu jalan-Nya untuk memberiku semangat baru untuk terus bermimpi dan mengejarnya.

Kendal, 28 Juli 2016. Mengunjungi nirwana yang terlupa dan rumah wawasan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s