Ibuk Kangen Dek

Piece of wood with the house's silhouette Free Photo
Credit: freepik.com

Bismillah

Alhamdulillah Jum’at sore kemarin aku dapat pulang kerumah. Aku pulang pada hari Jum’at bersama Si Ulin yang kebetulan juga pulang ke Kendal. Sore itu kami berangkat dari Sekaran sekitar pukul lima sore. Ditemani dengan mendung yang beriringan dengan gerimis aku dibawa pada berbagai kenangan. Pada tempat-tempat tertentu, pikiranku terbang menyusuri setiap sel neuron yang menyimpan ingatan-ingatan yang juga memenuhi isi hati. Hirupan udara pun begitu dalam.

Aku pulang sebenarnya karena sudah cukup lama tidak pulang. Aku ingat dulu ketika pengukuhan sebagai Siswa Sketsa VI, kak Ulil Albab memberi materi dan beliau berpesan kurang lebih seperti ini;

“Pulanglah, selagi masih ada orangtuamu, pulanglah, selagi masih ada saudaramu, pulanglah, selagi masih ada kakek nenekmu, pulanglah, selagi masih ada tetanggamu dan pulanglah, selagi masih ada orang yang menyayangimu.”

Pesan yang tertancap begitu dalam dipikiranku. Selain itu aku juga pada hari sabtu pagi harus mengikuti kegiatan Pelantikan Pengurus PAC IPNU Kota Kendal yang merupakan titik penting dalam kehidupanku, yang Insya Allah akan aku ceritakan dilain post.

Ada hal yang membuat aku merasa trenyuh—tersentuh pada sabtu pagi itu, yaitu saat pagi sembari aku mempersiapkan pakaian untuk kegiatan tersebut aku bercakap-cakap dengan Ibuk, kemudian tanpa sengaja secara tidak langsung aku mengatakan bahwa aku pulang juga karena harus mengikuti kegiatan itu, spontan Ibuk bilang “Lha kalau tidak ada kegiatan itu berarti ndak pulang dek… Yo Ibuk kangen dek kalau ndak pulang” Aku ketika itu hanya bisa tertawa kecil sebagai cara untuk menutupi ketidakmampuanku untuk menjawab pernyataan dari Ibuk itu. Setelah itu kami kembali bercakap seperti biasa, namun tentu itu menjadi hal yang begitu memukul bagiku. Aku yang seolah acuh tentang aku harus pulang atau tidak, meskipun sebenarnya aku juga begitu kangen pada beliau. Namun aku memang sengaja, jika tidak ada keperluan yang penting aku terkadang tidak pulang. Karena aku juga berpikir biasanya ketika aku pulang justru Ibuk Bapak jadi bertambah repot. Namun ternyata hal itu salah, seharusnya aku menuruti nasehat dan pesan Kak Ulil Albab. Aku harus pulang, salah jika aku berpikir aku hanya merepotkan ketika pulang. Salah jika aku berpikir bahwa kepulanganku itu tidak berarti apapun bagi Bapak Ibuk. Salah jika aku berpikir bahwa aku harus ‘bermedali’ ketika pulang agar mereka bahagia. Ternyata kedatanganku kerumah sudah menjadi bingkisan manis bagi mereka.

Aku berjanji kedepan untuk lebih sering meluangkan waktu untuk pulang, meski hanya sehari. Terima kasih atas segalanya, Bapak Ibuk.

Sekaran, 30 Oktober 2016. Maafkan adek ya Buk

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s